Virus yang tidak akan pernah mati

How Fascism Works: The Politics of Us and Them

Penulis: Jason Stanley
Halaman: 212 halaman
Penerbit: Random House (September 4, 2018)

Fasisme masih hidup, layaknya virus yang susah mati, hanya diam di pojokan menunggu untuk menerkam. Fasisme tidak hanya ada dalam buku sejarah yang menampilkan wajah om om Jerman berkumis dua ruas jari saja. Jika rajin membaca berita internasional, meningkatnya populisme di berbabagi negara sekaligus “kebencian terhadap mereka yang berbeda” menjadi sebuah lampu kuning yang mengerikan dan membuat banyak orang was was, akankah fasisme naik daun lagi? Jika buku How Democracies Died menceritakan mengenai berbagai pertanda tewasnya demokrasi secara substansi, maka buku ini mengurai fasisme yang kembali bangkit di zaman Donald Trump dan Brexit.

View this post on Instagram

I saw this book on the shelves of @penguinindia at the World Book Fair. It was the only copy left and I literally jumped to pick it up. I am disappointed, (but not amazed) that this book is absent from mainstream #bookstagram altogether. . . Recently I attended a talk by social activist and writer, Harsh Mander, where he said that fascism is an ism that is impossible to define as it changes its shape with time and space. Fascism of Germany (Nazi) was different from that of Italy. Fascism (read: white supremacy) of US is different from fascism in Poland, India or NZ, but inherently they have some basic characteristics. . @guardian says that this book is vital for a nation (USA) under Trump and I feel that this is vital for India under Modi. With only under a month to go for elections, I am going to post some statements on my stories (to identify fascism around you, if any). If you find those statements true, you need to wake up because the monster is lurking close. . . White supremacy ticks all the boxes of fascism. It boasts of a mythical glorious past, it uses propaganda against intellectuals, perpetuates strict hierarchy, is anti-feminist and plays victim to a part of society that is already weak and is claimed to be alien. . . #christchurch #fascism #whitesupremacyisterrorism #whitesupremacy #hindutva #nazi #nazism #bookstagramindia #nonfiction2019 #nonfiction #howfascismworks #jasonstanley #loveconquershate #unitedagainsthate #xenophobia #terrorism #christchurchshooting #donaldtrump #newzealand #australia #india #propaganda #books #bookstagram4compassion #hygge #allthingsbooks #allkindsofmagic #read #readerslife

A post shared by Mir • India • Bookstagram (@khubaibliophile) on

Tentu saja buku ini dituliskan untuk mereka yang sudah tau apa bedanya fasis dan sosialis dalam spektrum teori politik dan sejarah. Ini memang bukan buku untuk pemula, pembaca akan langsung diajak tancap gas. Politik fasisme bercirikan selalu mengagungkan masa lalu (bukan kamu Sunda Empire, tenang), menyalah-nyalahkan minoritas (di negara lain mereka bisa jadi adalah pengungsi juga, tetapi bukankah relasi mayoritas dan minoritas di Indonesia juga tidak akur?).

Cara-cara fasisme ini bagai serigala berbulu domba, membajak saluran-saluran demokrasi dengan menguarkan ide-ide anti demokrasi (makanya, membaca buku How Democracies Died adalah pelengkap yang pas), mengeksploitasi kesenjangan sosial demi kepentingan politik sesaat serta gemar membagi antara “kita” dan “mereka”, mendukung prasangka buruk akan mereka yang berbeda dan minoritas.

Tidak hanya itu, ide soal kecemasan seksual dan maskulinitas dalam konstruksi yang rapuh juga menjadi cara para politisi fasis dalam menggembosi demokrasi. Normalisasi ucapan dan ungkapan kebencian lalu menjadi salah satu senjata lanjutannya. Kalau bingung, di Indonesia sendiri ide demokrasi baru sebatas prosedur, secara substansi masih terpecah belah lewat identitas etnis dan agama. Sehingga ungkapan seperti “etnis A itu licik”, “Kalau etnis B pasti baik”, “Jika etnis B jahat itu karena dia terdesak, kalau etnis A jahat itu karena karakter” membuat pembaca berpikir bahwa di Indonesia sekalipun, fasisme bisa tumbuh subur.

i voted sticker spool on white surface
Photo by Element5 Digital on Pexels.com

Untungnya, Indonesia tidak separah Amerika Serikat yang sudah punya sejarah penindasan terhadap etnis minoritas yang berlangsung ratusan tahun, tetapi ini bukan alasan untuk bernapas lega, sebab virus fasisme bisa saja menerkam dari pojokan.

Lalu apa solusinya? Buku ini tidak menawarkan solusi paling ampuh, namun sebuah pertanyaan soal bagaimana menanggulangi fasisme seperti ini jika ketimpangan sosial masih ada dan ide-ide kesetaraan hanya mampu diakses dan dilaksanakan mereka yang kaya. Apakah liberalisme adalah obat ampuh? Buku Why Liberalism Failed oleh Patrick J. Deneen malah mengkritik kekeliruan liberalisme. Tetapi saya belum akan mengulas buku tersebut sebab membutuhkan waktu perenungan tersendiri.

One Comment Add yours

  1. lazione budy says:

    Indonesia punya sejarah kelam tersendiri Bung. Tragedi pembantaian ’65 sisi gelap NKRI dalam melenyapkan orang yang beda dengan pemerintah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s